Setelah sebulan penuh melihat peristiwa dimana orang – orang dengan “ajaib”nya melakukan ibadah, sekali lagi “hanya” sebulan, setelah itu gak tau deh ngapain (bukan bermaksud men-jugde orang). Secara pribadi, saya sangat senang melihat pemandangan tersebut, dimana semua orang sangat taat melakukan kewajibannya sebagai umat islam. Masjid – masjid penuh pun terlihat penuh, mulai dari shubuh hingga isya’, belum lagi ketika datang waktunya sholat tarawih, just amazing. Semuanya berlomba – lomba mengumpulkan amal ibadah sebanyak – banyaknya. Dulu ketika kita semua ada di bangku sekolah dasar, penjelasan tentang hikmah idul fitri dimana semua orang kembali fitrah,suci seperti bayi yang baru lahir,dosa – dosa yang pernah kita lakukan dihapuskan, dll, membuat kita sangat antusias mendengarnya.
Bertambah dewasa, tua tepatnya, jalan pikiran ini pun semakin rumit. Pemikiran – pemikiran tentang segala sesuatu yang telah ada juga muncul, entah darimana datangnya, atau memang sifat manusia seperti ini, no one knows. Pengalaman mengenai kejadian – kejadian yang pernah terjadi di masa lalu menimbulkan kebimbangan tersendiri, bukan berarti hilang keyakinan. Antara benar dan salah akan suatu hal dipertanyakan kembali, baik aturan – aturan yang telah baku secara hukum, maupun agama.
Masih ingat berkah hari raya idul fitri? Ya benar, dosa – dosa kita di masa lalu terampuni. Pokoknya semua orang kembali menjadi suci, layaknya kertas putih yang belum ada coretan tinta yang berwarna hitam di dalamnya. Tapi pertanyaannya, yang sampai sekarang terus muncul dalam diri ini, apakah ketika ada orang melakukan tindak kejahatan, merampok, mencuri, tindak penganiayaan, hingga membunuh misalnya, juga akan menjadi suci di bulan ramadhan, serta dihilangkan dosa – dosa yang telah mereka lakukan tadi? Berarti enak dong, sebelum ramadhan atau sebelum hari raya idul fitri, semua orang ramai – ramai doing very bad things, toh ntar juga pasti diampuni dan dihapus waktu lebaran tiba. Well , ketika mulai menulis tulisan ini, saya sadar akan ada beberapa pihak yang akan menganggap saya adalah orang yang hilang kepercayaan dan keyakinan terhadap Tuhan-nya. But hold on, saya juga pernah menjalani pendidikan di sekolah islam, mulai niat sholat lima waktu, berbagai macam shalawat, hingga doa sapu jagat pun, I’ve been through it, walaupun saya bukan orang yang taat agama, sholat 5 waktu pun banyak yang masih bolong sih.
Ok, kembali lagi ke topik, sekali lagi ini adalah pemikiran seorang manusia yang mencoba mencari suatu pencerahan tentang beberapa hal. Apakah seseorang yang melakukan tindak kejahatan tadi ada jaminan mereka tidak melakukannya lagi dan lagi..? apabila tidak ada, maka sungguh kasihan melihat korban – korban kejahatan mereka. Setahun penuh merampok, mencuri, menganiaya, menyakiti orang lain, hingga membunuh, terhapuskan ketika lebaran tiba. Tindakan yang membuat seseorang kehilangan harta bendanya, fine, kalau masalah duniawi bisa dicari penggantinya, tetapi bagaimana yang kehilangan sanak saudaranya, apabila keluarga tersebut bisa menerima dengan lapang dada, no problem, tapi bagaimana dengan yang tidak bisa ikhlas menerima kenyataan tersebut? Inilah yang menjadi pergolakan di dalam batinku, terlepas Allah SWT mempunyai rencana sendiri terhadap kaumnya.
I knew it, I knew its gonna happen again, dari tahun ke tahun, ada saja yang tetap tidak bisa termaafkan secara ikhlas oleh hati ini. Sulit untuk melupakan kejadian di masa lalu mungkin telah menjadi salah satu sifatku. Dan ketika kejadian itu merupakan suatu hal yang sangat hurt so bad di hidupku, memaafkan secara ikhlas, sekali lagi, secara ikhlas, adalah sesuatu yang amat sangat berat untuk dilakukan. Kalau hanya sekedar memaafkan dalam kata – kata, everyone can do it, tapi untuk apa jika dalam hati kita masih nggrundel? Atau setelah kita bermaaf-maafan, dan orang itu pergi, kita membicarakan kesalahan yang dia perbuat kepada kita dulu? Not worth it at all..
Parahnya ketika momen lebaran tiba, diri ini hanya bisa diam ketika orang tersebut berjabatan tangan dan meminta maaf saya, hanya sebuah senyuman kecil terasa menyimpul dari bibir ini. Dalam hati saya hanya berkata, Tuhan ampunilah hamba mu ini yang masih tidak dapat menerima permintaan maaf dari (saudara)nya, hanya kepada Engkau lah aku meminta maaf dan meminta ampunan. Itulah yang terjadi pada lebaran tahun kemarin, dan sepertinya, tahun ini semakin bertambah dosa – dosaku, karena masih tidak bisa memaafkan dengan ikhlas semua kesalahan – kesalahan yang telah orang – orang tersebut perbuat. Pasti ada sebagian pihak yang berpendapat, kenapa tidak bisa memaafkan mereka? Tuhan mu saja Maha Pengampun, kenapa kita tidak? Sudahlah, berbesar hati saja jadi orang, kalau mereka telah berbuat kesalahan yang menyakitimu, Tuhan pasti punya cara sendiri untuk membalas perbuatan mereka.. Atau, perbanyak ibadah, minta petunjuk kepada-Nya, agar dimudahkan segala masalahmu..
Apapun yang kalian pikirkan, segala hal yang akan kalian sarankan, yakinlah, sudah saya coba lakukan semuanya, tapi tetap saja belum ada hasil. Jangankan untuk berjabat tangan dengan orang – orang tersebut, ketika bertemu secara tidak sengaja ataupun hanya mengobrol melalui fb, Cwwiinnkk….!! memori tentang segala apa yang mereka lakukan pun secara otomatis akan muncul dengan sendirinya. Kita harus siap menanggung dosa – dosa akibat perbuatan kita sendiri, seperti yang telah saya ceritakan diatas. Entah sampai kapan sifat yang unforgivable ini bersemayam di dalam diri, kalaupun seterusnya akan seperti ini, well saya sudah siap dengan resiko apapun yang akan saya terima. Bagiku, sekali lagi, Tuhan punya cara sendiri untuk memberikan sebuah reward kepada umatnya, entah itu baik maupun buruk, once again its only about me, my self and God…
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 Hijriyah all…
Sorry… I Still Can’t Forgive You This Year..
