Sejarah handphone sendiri memiliki cerita yang beragam. Dahulu, ketika pertama kali muncul, dengan teknologi monochrome, dan hanya dilengkapi fasilitas telephone & sms, merupakan barang yang sangat mewah. Saat itu juga hanya di dominasi beberapa merk saja, seperti Nokia, Siemens, Ericssons. Namun sekarang, seiring berkembangnya teknologi, para produsen lebih kreatif dalam memproduksi handphone. Beragam merk pun muncul, Blackberry (BB), Samsung, Panasonic, Motorolla, Apple IPhone, dan tentu saja merk – merk China yang banyak di buru beberapa orang karena faktor harga seperti, Nexian, K-Touch, Huawei, D-One, dll. Bukan hanya sekedar untuk telephone & sms, tetapi lebih mengarah ke alat multimedia. Mulai dari memainkan musik, film, merekam video, memotret, hingga jelajah dunia internet. Bahkan, ada salah satu merk handphone, “BB” yang mempunyai fasilitas messenger antar pengguna, layaknya sebuah yahoo messenger, asalkan memiliki merk yang sama. Para remaja yang memang secara garis besar adalah pengguna teknologi, pasti dengan senang hati menikmati layanan – layanan tersebut.
Dan berbicara tentang remaja, pasti tidak jauh – jauh dengan yang namanya anak sekolahan, yang rata – rata mulai dari smp sampai sma. Semua orang mengetahui, bahwa anak – anak sekolah jaman sekarang sangat jauh berbeda penampilannya, apalagi menyangkut barang kesukaannya. Walaupun tidak smuanya, tapi setiap anak sekarang mempunyai handphone sendiri – sendiri. Dan modelnya pun bisa di bilang sangat up to date dengan model – model handphone yang sedang trend saat ini. Pertanyaannya, sangat penting kah alat tersebut, mengingat status mereka yang masih tergolong anak sekolahan?
Ketika melewati sebuah sekolah menengah atas di Jl.Veteran kota malang, dan saat itu jam pulang sekolah, sekejap ada pemandangan yang cukup menarik. Yaitu para murid yang berdiri sejajar di trotoar, mungkin sedang menunggu mikrolet ataupun jemputan, dengan tangan yang semuanya memegang handphone. Layaknya etalase di sebuah toko, dimana terdapat patung model pakaian, diam tak bergerak. Hanya saja, murid – murid tersebut jemarinya sibuk bermain dengan keypad dan ada beberapa yang menempelkannya di telinga. Serupa dengan anak –anak sekolah menengah pertama, yang ada di daerah Batu, tidak ada yang berbeda. Jangankan anak – anak SMP atau SMA, toh murid SD saja saat ini kebanyakan juga memiliki handphone qwerty atau touch screen.
Sedikit flashback, ketika dulu setiap remaja mempunyai prestasi yang bagus di sekolahnya, apalagi kalau hasil rapotnya grade A semua, para orang tua dengan bangga akan mengajak anaknya tersebut untuk jalan – jalan ke sebuah tempat sebagai bentuk hadiahnya. Ketika ada perayaan ulang tahun pun juga begitu, banyaknya hadiah yang di terima memberkan kesan tersendiri bagi yang merayakannya. Bagaimana dengan sekarang? Yups.. anak – anak atau remaja tersebut sudah mempunyai keinginan tersendiri tentang apa yang mereka inginkan. Jauh – jauh hari mereka sudah “request” kepada orang tuanya, “ma/pa, ntar kalau nilaiku bagus, aku belikan hape ya?”, atau “kalau nilaiku bagus belikan hape yang baru ya, hape yang lama sudah kuno”. Dan ketika sebuah kado ulang tahun dibuka, tanpa ada handphone di dalamnya, ada perasaan semacam kecewa yang terungkap dari raut wajah mereka.
Tidak hanya itu saja, keberadaan handphone saat ini telah memunculkan sebuah komunitas di beberapa kelompok masyarakat. Contoh yang paling nyata adalah BBM Community yang merupakan perwujudan para pengguna BB Messenger untuk menjalin keakraban antara satu sama lain, yang tentunya hanya pemilik Blackberry saja yang dapat bergabung. Baru – baru ini juga muncul kabar, bahwa salah satu S.M.A.N di kota Surabaya sebagian besar murid nya memakai BB untuk berkomunikasi. Disini kita bisa bahwa budaya imitasi sudah sedemikian jauh mempengaruhi masyarakat. Kenapa sampai disebut seperti itu? Penjelasan yang paling mudah adalah, ketika anak – anak tersebut memakai BB, entah murni untuk komunikasi atau sebagai gaya, tidak mungkin hanaya sekedar inisiatif dari diri mereka sendiri. Pastinya, ada acuan dari seseorang maupun lingkungan tempat mereka tumbuh. Selain itu, ketika BB telah sampai dalam penggunaan anak – anak sekolah, walaupun tidak tersirat secara jelas, namun akan mengakibatkan adaya jarak antara murid satu dengan yang lainnya.
Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, fasilitas messenger yang menjadi keunggulan handphone BB meyebabkan hanya murid tertentu, yang menggunakan BB juga, dapat menjalin pertemanan. Sementara anak – anak lainnya, tetap bisa berteman, namun akan ada semacam ketidakakraban antara mereka. Selain itu, kepemilikan BB membuat beberapa orang merasa, strata sosial dirinya lebih dari yang lain, karena sekali lagi, image yang di bentuk handphone BB adalah orang – orang menengah keatas. Hal inilah yang dikhawatirkan saat para anak - anak sekolah memiliki barang tersebut. Akan menjadi suatu hal yang sangat menakutkan, ketika masih berada di tingkat sekolah, harus mengalami gap social dan sindrom superioritas dalam hal pertemanan.
Sejauh itukah, pengaruh dari teknologi handphone membius para remaja sekarang ini? Pertanyaan – pertanyaan semacam ini terus muncul dalam benak saya dan mungkin setiap orang. Kontrol orang tua sangat diperlukan dalam masalah yang seperti ini. Pembatasan atas segala keinginan anak harus diterapkan seefektif mungkin. Kita tidak bisa, hanya karena ingin menyenangkan hati sang anak, apapun yang mereka inginkan, kita turuti. Kalau keinginan tersebut mempunyai dampak yang bagus, boleh – boleh saja. Tetapi, jika seperti kasus diatas, dimana anak tersebut menjadi seseorang yang selektif dalam menjalin pertemanan, hanya karena sebuah handphone, sungguh sangat ironis sekali. Sebenarnya, kebutuhan untuk berkomunikasi antara orang tua dan anak tetap bisa dilakukan tanpa harus bingung memikirkan, media apa yang harus digunakan. Seandainya memang dibutuhkan sebuah media, yaitu handphone, tidak harus yang sedang trend atau mewah sekali.
Problema seperti ini harusnya menjadikan sebuah pembelajaran bagi semua pihak, khususnya bagi remaja yang umumnya mempunyai rasa penasaran cukup tinggi. Tidak selamanya mengikuti perkembangan arus teknologi akan berdampak positif. Tetapi, terlalu menutup diri terhadap teknologi juga tidak dianjurkan, mengingat jaman sekarang ini adalah jaman dimana segala akses terhadap informasi dapat dengan mudah kita dapatkan apabila kita menguasai teknologi yang ada. Jadi dengan kata lain, kita adalah filter teknologi bagi diri kita sendiri.
Arivederci .. See U Next Time..

0 komentar:
Posting Komentar