Ironisnya, semua televisi cenderung melakukan proses pengulangan acara atau replikasi atas program yang sukses. Kondisi ini tentu saja menunjukan bahwa eksistensi pertelevisian kita masih sangat jauh dari harapan kreativitas dunia pertelevisian. Paling tidak, ini terlihat dari program acara pencarian bakat lewat short message service (SMS) pemirsa yang hampir semua televisi menjualnya, mulai dari Indonesian Idol, KDI, AFI, Kondang In, dan lain - lain. Tayangan hantu-hantuan juga marak diekspose beberapa waktu lalu, meski kini sudah tidak lagi mendapat rating yang bagus. Ekpose kekerasan juga tidak kalah dikupas oleh stasiun televisi, mulai dari Buser, TKP, Sergap, Lacak, Kupas Tuntas, Patroli, hingga Sidik. Kini, semua televisi juga sedang menjual program berbau keimanan Islami meniru sukses Rahasia Ilahi dengan mengaku sebagai kisah nyata.
Tayangan lain yang kini juga sedang naik rating adalah reality show. Ironisnya, dari sejumlah tayangan program ini ternyata ada sementara pihak yang memrotesnya karena dianggap melakukan eksploitasi, terutama eksploitasi kemiskinan. Kasus terakhir terjadi ketika Ari Wibowo mencari pembantu. Khusus untuk tudingan eksploitasi kemiskinan, paling tidak pemirsa bisa melihat tayangan Bedah Rumah, Uang Kaget, Rejeki Nomplok, Lunas, Mimpi Anak Jalanan, dll. Keabsahan tentang penilaian eksploitasi sangat tergantung pada persepsi publik. Yang jelas, si produser meraup profit lewat iklan yang dijual pada tayangan itu.
Maraknya tayangan-tayangan sejenis seperti itu menunjukkan bahwa televisi sebagai media komersial harus merebut rating pemirsa sehingga wajarlah stasiun-stasiun televisi saling berlomba untuk menjual program yang bisa mendongkrak rating. Hal ini tentu sah jika dikaitkan dengan tuntutan industrialisasi. Sayangnya, posisi pemirsa tetap saja dinomorduakan. Bahkan, untuk merebut rating, tidak jarang produser rela menjual tayangan mimpi-mimpi tentang kemewahan, hidup yang serba wah dan figur cewek-cowok seksi-ganteng. Potret semu yang diobral pada tayangan itu secara psikologis memang bisa berakibat fatal, terutama bagi generasi muda.
Ada sisi buruk di balik penyiaran program infotainment dan tayangan sejenis di televisi manakala privasi narasumber sudah tidak lagi diperhatikan. Hal ini tentu sangat melanggar norma ketimuran kita. Sayangnya, komisi penyiaran televisi belum melakukan tindakan atas kasus ini dan si narasumber juga tidak tahu bagaimana mengadukannya. Jika si narasumber adalah tokoh atau orang besar-ternama, mereka dengan mudah bisa menyewa pengacara untuk menuntut pencemaran nama baik. Sebaliknya, jika si narasumber adalah rakyat miskin yang dieksploitasi, pilihannya adalah diam saja.
Dari gambaran itu menunjukkan bahwa tayangan reality show atau tayangan sejenis yang kini marak dijual stasiun televisi masih banyak terdapat kekurangan.
Istilah reality show berarti pertunjukan yang asli, tidak direkayasa. Kejadiannya diambil dari keseharian, kehidupan masyarakat apa adanya, yaitu realita di masyarakat. Tayangan reality show ini pada awalnya mirip dengan dokumentasi news. Hanya saja pada perkembangannya reality show ini bukan berita yang menjadi pokok tayangannya, melainkan keterkaitan emosi penonton dengan aktornya. Dengan kata lain, reality show merupakan kejadian asli tanpa rekayasa. Hanya saja, sebagai kemasan tontonan maka reality show diracik sedemikian rupa hingga emosi penonton meluap.
Kata reality atau realita tampaknya sudah bias. Yasraf Amir Piliang pernah menulis buku tentang hyperealitas yang menjelaskan betapa perkembangan teknologi sangat cepat dan dahsyat. Kemajuan teknologi ini pun mengubah perkembangan visual (gambar) atau tayangan hingga muncullah realitas bayangan semu (virtual reality). Realita saat ini memang dengan mudah bisa dipalsukan.
Terkait dengan program reality show, kita sering menyaksikan acara perburuan orang jahat menjadi sebuah tayangan realitas. Pada acara Cabe Rawit, seorang anak kecil (8 tahun) dikerjain orang tuanya dengan harapan anaknya menjadi anak yang mandiri. Apakah ini realita atau rekayasa? Apa yang diharapkan sebuah tayangan reality show masa kini? Seorang pemuda desa nekad menjual perhiasan ibunya hanya untuk ikut uji tampil menjadi bintang, apakah ini realitas atau hanya mimpi yang jadi kenyataan? Kemudian, seorang pemuda ganteng dan kaya raya, menjadi rebutan gadis-gadis muda belia. Ini nyata atau palsu?
Tentu pemirsa masih ingat tayangan impor manakala pemirsa diminta untuk memilih mana tayangan yang asli dan mana yang palsu (fact or fiction). Dari tayangan itu tentu kita bisa melihat bahwa tayangan fiksi bisa direkayasa menjadi nyata hingga menciptakan daya pikat pemirsa. Bahkan, emosi ketakutan dan menjijikkan juga bisa dikemas menjadi suatu tayangan yang bisa meraup banyak iklan. Lihat program Fear Factor yang kemudian "diindonesiakan" lewat program "Tantangan" dan "Radikal".
Perkembangan acara televisi, khususnya reality show tampaknya mampu menggeser fenomena tayangan hantu. Semua acara yang melibatkan orang biasa (bukan aktor), kini dicap sebagai acara reality show. Siapa pun pemerannya asal punya cerita atau kisah yang menyentuh emosi penonton, maka ia layak tonton. Reality show memang sudah bias dari konsep aslinya, hampir menjadi simpang siur atas kebutuhan pemirsa. Reality show diramu dengan penambahan-penambahan (rekayasa) tertentu agar alur ceritanya menjadi lebih sendu.
Akhirnya, mengutip kata-kata Richard Brodie, penulis Virus of The Mind, "penyakit" acara televisi tidak bisa disembuhkan melainkan dilumpuhkan. Begitu kita semua telanjur terjangkiti virus-virus acara yang ditayangkan di layar televisi dan media lain, kita tidak akan bisa menghentikannya. Oleh sebab itu, kita dituntut waspada agar tidak hanyut dalam program acara televisi yang banyak menjual harapan dan mimpi-mimpi

2 komentar:
ya begitulah perkembangan acara televisi kita bro!!!!maklumlah...gag punya ide lain kaleeeeeee......sampe harus membuat sesuatu yang tidak sebenarnya. alias menghayal....wakakakakaka
bang bang...
aeoh bahas soal anime!!!
cek seru!!!
ngerti gak
Posting Komentar