Sebelas. Itulah jumlah stasiun televisi nasional yang ada
di Indonesia saat ini. Cukup banyak, namun jumlah tersebut
tidak memberikan keragaman program, yang terjadi justru
keseragaman. Masalah tersebut memang sudah menjadi isu yang
bisa dibilang klise untuk dunia pertelevisian lokal.
justru yang tengah hangat saat ini adalah masalah kepemilikan
stasiun televisi. Maklum, merger, take over dan penyuntikan modal
telah dialami beberapa stasiun televisi. Sebut saja PARA Group
yang membawahi Trans Corp dan Trans TV-nya, yang mengambil alih
TV7 dari kelompok Kompas Gramedia. Dengan komposisi kepemilikan
51:49, pihak Trans Corp mengubah nama TV7 menjadi Trans 7.
Sebelumnya, dana US$20 juta (sekitar Rp 200 miliar) yang
digelontorkan kelompok Kompas Gramedia sebagai modal awal
hanya mampu menopang TV7 selama lima tahun. Agustus 2006,
Trans Corp membeli saham TV7 sebesar 49 persen yang
sebelumnya dimiliki oleh kelompok Kompas Gramedia itu.
Di stasiun "berbaju" baru ini, pihak Trans Corp pun
menempatkan beberapa personelnya di posisi strategis
untuk menyulap tampilan si anak asuh. Jadilah beberapa
program yang cukup menaikkanl peringkat Trans 7 dalam
perolehan rating versi lembaga survei AGB Nielsen.
Termasuk ditayangkannya film-film box office yang selama
ini sudah menjadi semacam trade mark Trans TV.
RCTI, TPI, dan Global TV, juga sudah "menyatu" bernaung
dalam kelompok Media Nusantara Citra (MNC). Kemudian,
masih segar di ingatan, kontroversi dan perubahan yang
disebabkan Star TV di dunia pertelevisian Indonesia.
Perusahaan milik raksasa media dunia, Rupert Murdoch,
itu membeli 20 persen saham antv. Kepemilikan itu turut
mengobrak-abrik seluruh program dan staf stasiun televisi
milik keluarga Bakrie ini. Tampilannya lebih baru dan segar,
semata-semata ditujukan untuk meningkatkan rating dan
tentu saja, perolehan iklan.
Sejak 30 April tahun lalu, selain mengganti logo,
antv juga merombak program-programnya.
Menurut Senior Manager Corporate Communications antv,
Zoraya Perucha, baru-baru ini, stasiun televisi
tersebut kini memiliki sekitar 80 persen program baru.
Sisanya merupakan program lama yang dirombak dan
ditampilkan kembali dalam format baru.
Konsep dasarnya adalah menjadikan antv sebagai stasiun
televisi dengan program-program alternatif. Mereka berupaya
mencuri celah penonton yang ada, terutama mereka yang
sudah penat dengan tren sinetron dan program televisi
Indonesia yang begitu-begitu saja.
Selain itu, antv juga tanpa tanggung-tanggung menarik
dedengkot program berita SCTV, Karni Ilyas. Masuknya Karni
mengubah citra antv yang cukup lekat dengan
kekerasan dan mistis. Program-program berita ditampilkan
lebih elegan dan eksklusif, berkat tangan dingin Karni.
Kini, Karni pindah ke Lativi. Ada apa? Itu yang jadi
pertanyaan banyak pihak. Kepindahannya ke sana merupakan
bagian strategi pihak Star TV yang juga membeli
sebagian saham milik Abdul Latief di Lativi. Beberapa
sumber menyebutkan, awalnya Karni memang difokuskan pada antv.
Kini setelah antv bisa dilepas kepada orang lain, ia pun mulai
berkonsentrasi membidani Lativi baru. Tak heran jika
tayangan-tayangan berkonotasi mesum, sadis, dan mistis pun
pelan-pelan mulai digeser dari stasiun ini. Rating-nya
pun mulai naik secara perlahan.
0 komentar:
Posting Komentar