BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Senin, 29 Agustus 2011

Ketika Musik Menjadi Inspirasi Seseorang - Dari Musik Rock Yang Menggetarkan Telinga Hingga Aliran Melayu Yang Mendayu-dayu

Di mulai pertama kali oleh seorang Wolfgang Amandeus Mozart, kemudian berganti Ludwig Von Beethoven yang lantunan pianonya berhasil membuat orang –orang diseluruh dunia seakan-akan terbang ke alam mimpi ketika mendengarnya, Elvis Presley, Kenny G yang dengan saxofon­-nya dapat menimbulkan romansa tersendiri bagi pendengarnya, hingga sekarang masuk pada jamannya Metallica, Limp Bizkit, kOrn, Akon, Jason Mraz, dan lain-lain. Di Indonesia sendiri, musik juga mempunyai sejarah yang cukup panjang. Alm. Gesang menciptakan lagu Bengawan Solo, Waljinah dengan irama keroncong dan suaranya yang khas, Koes Plus, lalu menuju generasi yang ada sekarang seperti, Slank dengan salam perdamaiannya, Dewa, Gigi, hingga para pendatang baru ST.12, Kangen Band dengan irama khas melayunya yang membuat orang-orang lemas tak berdaya, Hijau Daun, Omelette, dan sebagainya.

“..I kept everythings inside and even know I tried..it had feels apart.. what it meant to me well eventually be a memory of a time..I tried so hard and got so far.. in the end it does’nt even matter.. I had to fall and lose it all.. but in the end.. it does’nt even matter..”

Penggalan lirik lagu dari band manca Linkin Park tersebut terdengar begitu membahana dari sebuah kamar yang berukuran 3x3 meter. Terdapat seseorang yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu dengan membiarkan jari jemarinya menari-nari diatas keyboard sambil mengangguk-anggukkan kepalanya menikmati alunan musik tadi. Itu hanya contoh dari sedikit fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, dimana setiap kegiatan apapun selalu diselingi dengan yang namanya Musik.

Sudah lebih dari dua jam, kamar tersebut dipenuhi oleh suara2 musik yang membuat gendang telinga ini ikut melompat mengikuti irama tersebut. Suara yang berasal dari luar kamar seakan-akan tidak dapat menembus kerasnya alunan lagu. Akan tetapi, berkali-kali tombol backspace yang terdapat di keyboard tertekan dan terdengar juga suara kejengkelan. Suara musik yang di iringi dengan keyboard menjadikan perpaduan nada yang sangat unik dalam kamar tersebut. Pelan-pelan dia melangkahkan kaki, kemudian tanpa menungggu komando, tangannya mengambil benda yang berbentuk bulat tipis yang di salah satu sisi dari benda itu mempunyai tekstur warna yang mengkilap. Ketika melihat sisi yang satunya, ada semacam cetakan gambar sangat halus memperlihatkan sekelompok grup musik asal negeri Paman Sam, Linkin Park. Dengan sekejap, CD tersebut dia masukkan ke dalam CD ROOM yang telah tertanam di dalam computernya. Album kedua dari grup band tersebut akhirnya meneriakkan suaranya. Irama lagu ini semakin bertambah cepat dan keras. Kepalanya tak henti-hentinya bergoyang kesana kemari layaknya sebuah carousel di taman bermain anak-anak. Setelah rileks sejenak mendengarkan lagu, jari-jarinya melanjutkan untuk mengetik kembali. Tak seberapa lama kemudian, dia mengangkat kedua tangannya keatas sambil meneriakkan kata-kata keberhasilan melakukan sesuatu. Benar saja, tugas yang sejak lama dikerjakan, akhirnya terselesaikan juga. Tidak lupa, CD case yang bergambarkan para personil band mancanegara tadi, dia angkat tinggi-tinggi, lalu berkata, “you’re my inspiration..!!”

Hal-hal semacam itu sering kita temukan ketika berkunjung ke sebuah kamar seseorang. Baik ketika sedang mengerjakan tugas, bermain game, ataupun hanya sekedar melakukan diskusi antar teman, musik seolah-olah menjadi media yang tepat untuk mencairkan suasana. Musik juga dapat mewakili perasaan seseorang. Suasana romantis bagi sepasang kekasih yang sedang di mabuk cinta dapat di bangun dengan adanya sebuah musik yang mendukung. Getaran –getaran asmara pun akan semakin terasa.

Seperti pada malam itu (15/07) 2009 lalu, ketika ada sepasang muda-mudi yang bisa di bilang sedang menjalin hubungan asmara, tiba di sebuah cafĂ© ice cream khas kota malang yang terletak di kawasan kayutangan. Bagaikan sepasang Romeo dan Juliet, keduanya saling berpegangan tangan dengan begitu erat, sangat serasi kedua makhluk tersebut. Setelah mencari tempat duduk yang dirasa nyaman, kemudian sang Romeo memesan sesuatu kepada seseorang pelayan cewek, yang saat itu mengenakan pakaian serba putih layaknya seorang peri. Lama berdiskusi, akhirnya Romeo kembali duduk bersandingan dengan sang Juliet. Lima menit berlalu, pesanan yang diharapkan pun tiba. Semangkuk Spaghetti Ice Cream dengan taburan saus blackberry dan dihiasi topping buah strawberry yang dibelah menjadi dua, seakan-akan ada dua hati berada di atas ice cream tersebut. Dibawah buah strawberry tadi, ada tulisan yang berasal dari coklat dengan kalimat “a Juliet con affetto”. Tak lama kemudian, sang Romeo mengeluarkan benda dari saku celananya. Sebentuk Iphone berwarna biru, yang kemudian diletakkan tepat di tengah-tengah meja tadi.

“..Kuyakin engkau bidadari dalam tidurku..Kuyakin engkau yang pantas aku tunggu..Kuyakin engkau hadir dalam mimpi indahku..Kau yang terbaik bagiku dan nomor satu..”

Alunan syahdu dari grup musik Kangen Band tersebut begitu meresap ke dalam jiwa. Mereka menyanyikannya secara bergantian, begitu hafal dan sangat serasi bagaikan sekelompok burung yang berkicau di pagi hari, saling bersaut-sautan. Hingga akhirnya, Keduanya pun larut di dinginnya kota malang.

Sepercik cerita tadi menunjukkan bahwa, setiap orang memiliki selera yang berbeda-beda dalam memilih musik. Tidak dapat dipungkiri juga bahwa, setiap kata atau kalimat yang keluar dari sebuah lagu, dapat menjadikan semacam inspirasi tersendiri bagi masing-masing individu.

So, let the music flows on your soul & you’ll get very exciting experience with that...!!

See Ya... n AlwaysStop Piracy..

Cellphones... The Never Ending Problems..

Perkembangan teknologi komunikasi akhir – akhir ini , khususnya handphone telah menjadi sesuatu hal yang tanpa batas. Bukan hanya orang dewasa yang dapat menggunakannya, tetapi anak – anak kecil pun juga dapat. Bahkan, anak – anak tersebut kadangkala lebih mengetahui model – model terbaru dari beberapa merk handphone.
Sejarah handphone sendiri memiliki cerita yang beragam. Dahulu, ketika pertama kali muncul, dengan teknologi monochrome, dan hanya dilengkapi fasilitas telephone & sms, merupakan barang yang sangat mewah. Saat itu juga hanya di dominasi beberapa merk saja, seperti Nokia, Siemens, Ericssons. Namun sekarang, seiring berkembangnya teknologi, para produsen lebih kreatif dalam memproduksi handphone. Beragam merk pun muncul, Blackberry (BB), Samsung, Panasonic, Motorolla, Apple IPhone, dan tentu saja merk – merk China yang banyak di buru beberapa orang karena faktor harga seperti, Nexian, K-Touch, Huawei, D-One, dll. Bukan hanya sekedar untuk telephone & sms, tetapi lebih mengarah ke alat multimedia. Mulai dari memainkan musik, film, merekam video, memotret, hingga jelajah dunia internet. Bahkan, ada salah satu merk handphone, “BB” yang mempunyai fasilitas messenger antar pengguna, layaknya sebuah yahoo messenger, asalkan memiliki merk yang sama. Para remaja yang memang secara garis besar adalah pengguna teknologi, pasti dengan senang hati menikmati layanan – layanan tersebut.
Dan berbicara tentang remaja, pasti tidak jauh – jauh dengan yang namanya anak sekolahan, yang rata – rata mulai dari smp sampai sma. Semua orang mengetahui, bahwa anak – anak sekolah jaman sekarang sangat jauh berbeda penampilannya, apalagi menyangkut barang kesukaannya. Walaupun tidak smuanya, tapi setiap anak sekarang mempunyai handphone sendiri – sendiri. Dan modelnya pun bisa di bilang sangat up to date dengan model – model handphone yang sedang trend saat ini. Pertanyaannya, sangat penting kah alat tersebut, mengingat status mereka yang masih tergolong anak sekolahan?
Ketika melewati sebuah sekolah menengah atas di Jl.Veteran kota malang, dan saat itu jam pulang sekolah, sekejap ada pemandangan yang cukup menarik. Yaitu para murid yang berdiri sejajar di trotoar, mungkin sedang menunggu mikrolet ataupun jemputan, dengan tangan yang semuanya memegang handphone. Layaknya etalase di sebuah toko, dimana terdapat patung model pakaian, diam tak bergerak. Hanya saja, murid – murid tersebut jemarinya sibuk bermain dengan keypad dan ada beberapa yang menempelkannya di telinga. Serupa dengan anak –anak sekolah menengah pertama, yang ada di daerah Batu, tidak ada yang berbeda. Jangankan anak – anak SMP atau SMA, toh murid SD saja saat ini kebanyakan juga memiliki handphone qwerty atau touch screen.
Sedikit flashback, ketika dulu setiap remaja mempunyai prestasi yang bagus di sekolahnya, apalagi kalau hasil rapotnya grade A semua, para orang tua dengan bangga akan mengajak anaknya tersebut untuk jalan – jalan ke sebuah tempat sebagai bentuk hadiahnya. Ketika ada perayaan ulang tahun pun juga begitu, banyaknya hadiah yang di terima memberkan kesan tersendiri bagi yang merayakannya. Bagaimana dengan sekarang? Yups.. anak – anak atau remaja tersebut sudah mempunyai keinginan tersendiri tentang apa yang mereka inginkan. Jauh – jauh hari mereka sudah “request” kepada orang tuanya, “ma/pa, ntar kalau nilaiku bagus, aku belikan hape ya?”, atau “kalau nilaiku bagus belikan hape yang baru ya, hape yang lama sudah kuno”. Dan ketika sebuah kado ulang tahun dibuka, tanpa ada handphone di dalamnya, ada perasaan semacam kecewa yang terungkap dari raut wajah mereka.
Tidak hanya itu saja, keberadaan handphone saat ini telah memunculkan sebuah komunitas di beberapa kelompok masyarakat. Contoh yang paling nyata adalah BBM Community yang merupakan perwujudan para pengguna BB Messenger untuk menjalin keakraban antara satu sama lain, yang tentunya hanya pemilik Blackberry saja yang dapat bergabung. Baru – baru ini juga muncul kabar, bahwa salah satu S.M.A.N di kota Surabaya sebagian besar murid nya memakai BB untuk berkomunikasi. Disini kita bisa bahwa budaya imitasi sudah sedemikian jauh mempengaruhi masyarakat. Kenapa sampai disebut seperti itu? Penjelasan yang paling mudah adalah, ketika anak – anak tersebut memakai BB, entah murni untuk komunikasi atau sebagai gaya, tidak mungkin hanaya sekedar inisiatif dari diri mereka sendiri. Pastinya, ada acuan dari seseorang maupun lingkungan tempat mereka tumbuh. Selain itu, ketika BB telah sampai dalam penggunaan anak – anak sekolah, walaupun tidak tersirat secara jelas, namun akan mengakibatkan adaya jarak antara murid satu dengan yang lainnya.
Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, fasilitas messenger yang menjadi keunggulan handphone BB meyebabkan hanya murid tertentu, yang menggunakan BB juga, dapat menjalin pertemanan. Sementara anak – anak lainnya, tetap bisa berteman, namun akan ada semacam ketidakakraban antara mereka. Selain itu, kepemilikan BB membuat beberapa orang merasa, strata sosial dirinya lebih dari yang lain, karena sekali lagi, image yang di bentuk handphone BB adalah orang – orang menengah keatas. Hal inilah yang dikhawatirkan saat para anak - anak sekolah memiliki barang tersebut. Akan menjadi suatu hal yang sangat menakutkan, ketika masih berada di tingkat sekolah, harus mengalami gap social dan sindrom superioritas dalam hal pertemanan.
Sejauh itukah, pengaruh dari teknologi handphone membius para remaja sekarang ini? Pertanyaan – pertanyaan semacam ini terus muncul dalam benak saya dan mungkin setiap orang. Kontrol orang tua sangat diperlukan dalam masalah yang seperti ini. Pembatasan atas segala keinginan anak harus diterapkan seefektif mungkin. Kita tidak bisa, hanya karena ingin menyenangkan hati sang anak, apapun yang mereka inginkan, kita turuti. Kalau keinginan tersebut mempunyai dampak yang bagus, boleh – boleh saja. Tetapi, jika seperti kasus diatas, dimana anak tersebut menjadi seseorang yang selektif dalam menjalin pertemanan, hanya karena sebuah handphone, sungguh sangat ironis sekali. Sebenarnya, kebutuhan untuk berkomunikasi antara orang tua dan anak tetap bisa dilakukan tanpa harus bingung memikirkan, media apa yang harus digunakan. Seandainya memang dibutuhkan sebuah media, yaitu handphone, tidak harus yang sedang trend atau mewah sekali.
Problema seperti ini harusnya menjadikan sebuah pembelajaran bagi semua pihak, khususnya bagi remaja yang umumnya mempunyai rasa penasaran cukup tinggi. Tidak selamanya mengikuti perkembangan arus teknologi akan berdampak positif. Tetapi, terlalu menutup diri terhadap teknologi juga tidak dianjurkan, mengingat jaman sekarang ini adalah jaman dimana segala akses terhadap informasi dapat dengan mudah kita dapatkan apabila kita menguasai teknologi yang ada. Jadi dengan kata lain, kita adalah filter teknologi bagi diri kita sendiri.

Arivederci .. See U Next Time..

Jumat, 12 Juni 2009

Tayangan Reality Show di Televisi

Menyimak fenomena acara infotainment di televisi, ada sindiran yang menyatakan bahwa pekerja televisi saat ini tidak perlu repot-repot mengejar sumber berita. Sebab dengan maraknya tayangan itu, masing-masing rumah produksi bisa saling bertukar informasi, baik berita ataupun gambar dengan cara copy - paste saja. Sindiran ini tentu saja bisa dibenarkan. Sebab dari berbagai tayangan itu memang hampir bisa dikatakan seratus persen sama persis. Oleh karenanya, jangan heran jika dari pagi sampai sore, Senin sampai Minggu, hampir semua stasiun televisi rela menayangkan kasus keretakan rumah tangga Nia Daniati.

Ironisnya, semua televisi cenderung melakukan proses pengulangan acara atau replikasi atas program yang sukses. Kondisi ini tentu saja menunjukan bahwa eksistensi pertelevisian kita masih sangat jauh dari harapan kreativitas dunia pertelevisian. Paling tidak, ini terlihat dari program acara pencarian bakat lewat short message service (SMS) pemirsa yang hampir semua televisi menjualnya, mulai dari Indonesian Idol, KDI, AFI, Kondang In, dan lain - lain. Tayangan hantu-hantuan juga marak diekspose beberapa waktu lalu, meski kini sudah tidak lagi mendapat rating yang bagus. Ekpose kekerasan juga tidak kalah dikupas oleh stasiun televisi, mulai dari Buser, TKP, Sergap, Lacak, Kupas Tuntas, Patroli, hingga Sidik. Kini, semua televisi juga sedang menjual program berbau keimanan Islami meniru sukses Rahasia Ilahi dengan mengaku sebagai kisah nyata.

Tayangan lain yang kini juga sedang naik rating adalah reality show. Ironisnya, dari sejumlah tayangan program ini ternyata ada sementara pihak yang memrotesnya karena dianggap melakukan eksploitasi, terutama eksploitasi kemiskinan. Kasus terakhir terjadi ketika Ari Wibowo mencari pembantu. Khusus untuk tudingan eksploitasi kemiskinan, paling tidak pemirsa bisa melihat tayangan Bedah Rumah, Uang Kaget, Rejeki Nomplok, Lunas, Mimpi Anak Jalanan, dll. Keabsahan tentang penilaian eksploitasi sangat tergantung pada persepsi publik. Yang jelas, si produser meraup profit lewat iklan yang dijual pada tayangan itu.

Maraknya tayangan-tayangan sejenis seperti itu menunjukkan bahwa televisi sebagai media komersial harus merebut rating pemirsa sehingga wajarlah stasiun-stasiun televisi saling berlomba untuk menjual program yang bisa mendongkrak rating. Hal ini tentu sah jika dikaitkan dengan tuntutan industrialisasi. Sayangnya, posisi pemirsa tetap saja dinomorduakan. Bahkan, untuk merebut rating, tidak jarang produser rela menjual tayangan mimpi-mimpi tentang kemewahan, hidup yang serba wah dan figur cewek-cowok seksi-ganteng. Potret semu yang diobral pada tayangan itu secara psikologis memang bisa berakibat fatal, terutama bagi generasi muda.

Ada sisi buruk di balik penyiaran program infotainment dan tayangan sejenis di televisi manakala privasi narasumber sudah tidak lagi diperhatikan. Hal ini tentu sangat melanggar norma ketimuran kita. Sayangnya, komisi penyiaran televisi belum melakukan tindakan atas kasus ini dan si narasumber juga tidak tahu bagaimana mengadukannya. Jika si narasumber adalah tokoh atau orang besar-ternama, mereka dengan mudah bisa menyewa pengacara untuk menuntut pencemaran nama baik. Sebaliknya, jika si narasumber adalah rakyat miskin yang dieksploitasi, pilihannya adalah diam saja.

Dari gambaran itu menunjukkan bahwa tayangan reality show atau tayangan sejenis yang kini marak dijual stasiun televisi masih banyak terdapat kekurangan.

Istilah reality show berarti pertunjukan yang asli, tidak direkayasa. Kejadiannya diambil dari keseharian, kehidupan masyarakat apa adanya, yaitu realita di masyarakat. Tayangan reality show ini pada awalnya mirip dengan dokumentasi news. Hanya saja pada perkembangannya reality show ini bukan berita yang menjadi pokok tayangannya, melainkan keterkaitan emosi penonton dengan aktornya. Dengan kata lain, reality show merupakan kejadian asli tanpa rekayasa. Hanya saja, sebagai kemasan tontonan maka reality show diracik sedemikian rupa hingga emosi penonton meluap.

Kata reality atau realita tampaknya sudah bias. Yasraf Amir Piliang pernah menulis buku tentang hyperealitas yang menjelaskan betapa perkembangan teknologi sangat cepat dan dahsyat. Kemajuan teknologi ini pun mengubah perkembangan visual (gambar) atau tayangan hingga muncullah realitas bayangan semu (virtual reality). Realita saat ini memang dengan mudah bisa dipalsukan.

Terkait dengan program reality show, kita sering menyaksikan acara perburuan orang jahat menjadi sebuah tayangan realitas. Pada acara Cabe Rawit, seorang anak kecil (8 tahun) dikerjain orang tuanya dengan harapan anaknya menjadi anak yang mandiri. Apakah ini realita atau rekayasa? Apa yang diharapkan sebuah tayangan reality show masa kini? Seorang pemuda desa nekad menjual perhiasan ibunya hanya untuk ikut uji tampil menjadi bintang, apakah ini realitas atau hanya mimpi yang jadi kenyataan? Kemudian, seorang pemuda ganteng dan kaya raya, menjadi rebutan gadis-gadis muda belia. Ini nyata atau palsu?

Tentu pemirsa masih ingat tayangan impor manakala pemirsa diminta untuk memilih mana tayangan yang asli dan mana yang palsu (fact or fiction). Dari tayangan itu tentu kita bisa melihat bahwa tayangan fiksi bisa direkayasa menjadi nyata hingga menciptakan daya pikat pemirsa. Bahkan, emosi ketakutan dan menjijikkan juga bisa dikemas menjadi suatu tayangan yang bisa meraup banyak iklan. Lihat program Fear Factor yang kemudian "diindonesiakan" lewat program "Tantangan" dan "Radikal".

Perkembangan acara televisi, khususnya reality show tampaknya mampu menggeser fenomena tayangan hantu. Semua acara yang melibatkan orang biasa (bukan aktor), kini dicap sebagai acara reality show. Siapa pun pemerannya asal punya cerita atau kisah yang menyentuh emosi penonton, maka ia layak tonton. Reality show memang sudah bias dari konsep aslinya, hampir menjadi simpang siur atas kebutuhan pemirsa. Reality show diramu dengan penambahan-penambahan (rekayasa) tertentu agar alur ceritanya menjadi lebih sendu.

Akhirnya, mengutip kata-kata Richard Brodie, penulis Virus of The Mind, "penyakit" acara televisi tidak bisa disembuhkan melainkan dilumpuhkan. Begitu kita semua telanjur terjangkiti virus-virus acara yang ditayangkan di layar televisi dan media lain, kita tidak akan bisa menghentikannya. Oleh sebab itu, kita dituntut waspada agar tidak hanyut dalam program acara televisi yang banyak menjual harapan dan mimpi-mimpi