BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS »

Jumat, 12 Juni 2009

Tayangan Reality Show di Televisi

Menyimak fenomena acara infotainment di televisi, ada sindiran yang menyatakan bahwa pekerja televisi saat ini tidak perlu repot-repot mengejar sumber berita. Sebab dengan maraknya tayangan itu, masing-masing rumah produksi bisa saling bertukar informasi, baik berita ataupun gambar dengan cara copy - paste saja. Sindiran ini tentu saja bisa dibenarkan. Sebab dari berbagai tayangan itu memang hampir bisa dikatakan seratus persen sama persis. Oleh karenanya, jangan heran jika dari pagi sampai sore, Senin sampai Minggu, hampir semua stasiun televisi rela menayangkan kasus keretakan rumah tangga Nia Daniati.

Ironisnya, semua televisi cenderung melakukan proses pengulangan acara atau replikasi atas program yang sukses. Kondisi ini tentu saja menunjukan bahwa eksistensi pertelevisian kita masih sangat jauh dari harapan kreativitas dunia pertelevisian. Paling tidak, ini terlihat dari program acara pencarian bakat lewat short message service (SMS) pemirsa yang hampir semua televisi menjualnya, mulai dari Indonesian Idol, KDI, AFI, Kondang In, dan lain - lain. Tayangan hantu-hantuan juga marak diekspose beberapa waktu lalu, meski kini sudah tidak lagi mendapat rating yang bagus. Ekpose kekerasan juga tidak kalah dikupas oleh stasiun televisi, mulai dari Buser, TKP, Sergap, Lacak, Kupas Tuntas, Patroli, hingga Sidik. Kini, semua televisi juga sedang menjual program berbau keimanan Islami meniru sukses Rahasia Ilahi dengan mengaku sebagai kisah nyata.

Tayangan lain yang kini juga sedang naik rating adalah reality show. Ironisnya, dari sejumlah tayangan program ini ternyata ada sementara pihak yang memrotesnya karena dianggap melakukan eksploitasi, terutama eksploitasi kemiskinan. Kasus terakhir terjadi ketika Ari Wibowo mencari pembantu. Khusus untuk tudingan eksploitasi kemiskinan, paling tidak pemirsa bisa melihat tayangan Bedah Rumah, Uang Kaget, Rejeki Nomplok, Lunas, Mimpi Anak Jalanan, dll. Keabsahan tentang penilaian eksploitasi sangat tergantung pada persepsi publik. Yang jelas, si produser meraup profit lewat iklan yang dijual pada tayangan itu.

Maraknya tayangan-tayangan sejenis seperti itu menunjukkan bahwa televisi sebagai media komersial harus merebut rating pemirsa sehingga wajarlah stasiun-stasiun televisi saling berlomba untuk menjual program yang bisa mendongkrak rating. Hal ini tentu sah jika dikaitkan dengan tuntutan industrialisasi. Sayangnya, posisi pemirsa tetap saja dinomorduakan. Bahkan, untuk merebut rating, tidak jarang produser rela menjual tayangan mimpi-mimpi tentang kemewahan, hidup yang serba wah dan figur cewek-cowok seksi-ganteng. Potret semu yang diobral pada tayangan itu secara psikologis memang bisa berakibat fatal, terutama bagi generasi muda.

Ada sisi buruk di balik penyiaran program infotainment dan tayangan sejenis di televisi manakala privasi narasumber sudah tidak lagi diperhatikan. Hal ini tentu sangat melanggar norma ketimuran kita. Sayangnya, komisi penyiaran televisi belum melakukan tindakan atas kasus ini dan si narasumber juga tidak tahu bagaimana mengadukannya. Jika si narasumber adalah tokoh atau orang besar-ternama, mereka dengan mudah bisa menyewa pengacara untuk menuntut pencemaran nama baik. Sebaliknya, jika si narasumber adalah rakyat miskin yang dieksploitasi, pilihannya adalah diam saja.

Dari gambaran itu menunjukkan bahwa tayangan reality show atau tayangan sejenis yang kini marak dijual stasiun televisi masih banyak terdapat kekurangan.

Istilah reality show berarti pertunjukan yang asli, tidak direkayasa. Kejadiannya diambil dari keseharian, kehidupan masyarakat apa adanya, yaitu realita di masyarakat. Tayangan reality show ini pada awalnya mirip dengan dokumentasi news. Hanya saja pada perkembangannya reality show ini bukan berita yang menjadi pokok tayangannya, melainkan keterkaitan emosi penonton dengan aktornya. Dengan kata lain, reality show merupakan kejadian asli tanpa rekayasa. Hanya saja, sebagai kemasan tontonan maka reality show diracik sedemikian rupa hingga emosi penonton meluap.

Kata reality atau realita tampaknya sudah bias. Yasraf Amir Piliang pernah menulis buku tentang hyperealitas yang menjelaskan betapa perkembangan teknologi sangat cepat dan dahsyat. Kemajuan teknologi ini pun mengubah perkembangan visual (gambar) atau tayangan hingga muncullah realitas bayangan semu (virtual reality). Realita saat ini memang dengan mudah bisa dipalsukan.

Terkait dengan program reality show, kita sering menyaksikan acara perburuan orang jahat menjadi sebuah tayangan realitas. Pada acara Cabe Rawit, seorang anak kecil (8 tahun) dikerjain orang tuanya dengan harapan anaknya menjadi anak yang mandiri. Apakah ini realita atau rekayasa? Apa yang diharapkan sebuah tayangan reality show masa kini? Seorang pemuda desa nekad menjual perhiasan ibunya hanya untuk ikut uji tampil menjadi bintang, apakah ini realitas atau hanya mimpi yang jadi kenyataan? Kemudian, seorang pemuda ganteng dan kaya raya, menjadi rebutan gadis-gadis muda belia. Ini nyata atau palsu?

Tentu pemirsa masih ingat tayangan impor manakala pemirsa diminta untuk memilih mana tayangan yang asli dan mana yang palsu (fact or fiction). Dari tayangan itu tentu kita bisa melihat bahwa tayangan fiksi bisa direkayasa menjadi nyata hingga menciptakan daya pikat pemirsa. Bahkan, emosi ketakutan dan menjijikkan juga bisa dikemas menjadi suatu tayangan yang bisa meraup banyak iklan. Lihat program Fear Factor yang kemudian "diindonesiakan" lewat program "Tantangan" dan "Radikal".

Perkembangan acara televisi, khususnya reality show tampaknya mampu menggeser fenomena tayangan hantu. Semua acara yang melibatkan orang biasa (bukan aktor), kini dicap sebagai acara reality show. Siapa pun pemerannya asal punya cerita atau kisah yang menyentuh emosi penonton, maka ia layak tonton. Reality show memang sudah bias dari konsep aslinya, hampir menjadi simpang siur atas kebutuhan pemirsa. Reality show diramu dengan penambahan-penambahan (rekayasa) tertentu agar alur ceritanya menjadi lebih sendu.

Akhirnya, mengutip kata-kata Richard Brodie, penulis Virus of The Mind, "penyakit" acara televisi tidak bisa disembuhkan melainkan dilumpuhkan. Begitu kita semua telanjur terjangkiti virus-virus acara yang ditayangkan di layar televisi dan media lain, kita tidak akan bisa menghentikannya. Oleh sebab itu, kita dituntut waspada agar tidak hanyut dalam program acara televisi yang banyak menjual harapan dan mimpi-mimpi

Rabu, 10 Juni 2009

all ’bout SINEMATOGRAFI

Pengertian Sinematografi

Sinematografi adalah kata serapan dari bahasa Inggris Cinematographyyang berasal daribahasa Latin kinema ‘gambar’. Sinematografi sebagai ilmu terapan merupakan bidang ilmuyang membahas tentang teknik menangkap gambar dan menggabung-gabungkan gambar tersebut sehingga menjadi rangkaian gambar yang dapat menyampaikan ide (dapat mengemban cerita).Sinematografi memiliki objek yang sama dengan fotografi yakni menangkap pantulan cahaya yang mengenai benda. Karena objeknya sama maka peralatannyapun mirip. Perbedaannya, peralatan fotografi menangkap gambar tunggal, sedangkan sinematografi menangkap rangkaian gambar. Penyampaian ide pada fotografi memanfaatkan gambar tunggal, sedangkan pada sinematografi memanfaatkan rangkaian gambar. Jadi sinematografi adalah gabungan antara fotografi dengan teknik perangkaian gambar atau dalam sinematografi disebut montase (montage).

Sinematografi sangat dekat dengan film dalam pengertian sebagai media penyimpan maupun sebagai genre seni. Film sebagai media penyimpan adalah pias (lembaran kecil) selluloid yakni sejenis bahan plastik tipis yang dilapisi zat peka cahaya. Benda inilah yang selalu digunakan sebagai media penyimpan di awal pertumbuhan sinematografi. Film sebagai genre seni adalah produk sinematografi

Film sebagai Genre Seni

Istilah film pada mulanya mengacu pada suatu media sejenis plastik yang dilapisi dengan
zat peka cahaya. Media peka cahaya ini sering disebut selluloid. Dalam bidang fotografi
film ini menjadi media yang dominan digunakan untuk menyimpan pantulan cahaya yang
tertangkap lensa. Pada generasi berikutnya fotografi bergeser pada penggunaan media
digital elektronik sebagai penyimpan gambar. Dalam bidang sinematografi perihal media
penyimpan ini telah mengalami perkembangan yang pesat. Berturut-turut dikenal media
penyimpan selluloid (
film), pita analog, dan yang terakhir media digital (pita, cakram,
memori chip). Bertolak dari
pengertian ini maka film pada awalnya adalah karya
sinematografi yang memenfaatkan media selluloid sebagai penyimpannya.
Sejalan dengan perkembangan media penyimpan dalam bidang sinematografi,
maka
pengertianfilm telah bergeser. Sebuah film cerita dapat diproduksi tanpa
menggunakan selluloid (media
film). Bahkan saat ini sudah semakin sedikit film yang
menggunakan media selluloid pada tahap pengambilan gambar. Pada tahap pasca produksi
gambar yang telah diedit dari media analog maupun digital dapat disimpan pada media
yang fleksibel. Hasil akhir karya sinematografi dapat disimpan Pada media selluloid,
analog maupun digital. Perkembangan teknologi media penyimpan ini telah mengubah
pengertianfilm
dari istilah yeng mengacu pada bahan ke istilah yeng mengacu pada bentuk karya seni
audio-visual. Singkatnya
film kini diartikan sebagai suatu genre (cabang) seni yang
menggunakan audio (suara) dan visual (gambar) sebagai medianya.

Jenis-Jenis Film

Film Dokumenter (Documentary Films)

Dokumenter adalah sebutan yang diberikan untuk film pertama karya Lumiere bersaudara yang berkisah tentang perjalanan (travelogues) yang dibuat sekitar tahun 1890-an. Tiga puluh enam tahun kemudian, kata ‘dokumenter’ kembali digunakan oleh pembuat film dan kritikus film asal Inggris John Grierson untuk film Moana (1926) karya Robert Flaherty. Grierson berpendapat dokumenter merupakan cara kreatif merepresentasikan realitas (Susan Hayward, Key Concept in Cinema Studies, 1996, hal 72). Sekalipun Grierson mendapat tentangan dari berbagai pihak, pendapatnya tetap relevan sampai saat ini. Film dokumenter menyajikan realita melalui berbagai cara dan dibuat untuk berbagai macam tujuan. Namun harus diakui, film dokumenter tak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi, pendidikan, dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu. Intinya, film dokumenter tetap berpijak pada hal-hal senyata mungkin. Seiring dengan perjalanan waktu, muncul berbagai aliran dari film documenter misalnya dokudrama (docudrama). Dalam dokudrama, terjadi reduksi realita demi tujuantujuan estetis, agar gambar dan cerita menjadi lebih menarik. Sekalipun demikian, jarak antara kenyataan dan hasil yang tersaji lewat dokudrama biasanya tak berbeda jauh. Dalam dokudrama, realita tetap menjadi pegangan. Kini dokumenter menjadi sebuah tren tersendiri dalam perfilman dunia. Para pembuat film bisa bereksperimen dan belajar tentang banyak hal ketika terlibat dalam produksi film dokumenter. Tak hanya itu, film dokumenter juga dapat membawa keuntungan dalam jumlah yang cukup memuaskan. Ini bisa dilihat dari banyaknya film dokumenter yang bisa kita saksikan melalui saluran televisi seperti program National Geographic dan Animal Planet. Bahkan saluran televisi Discovery Channel pun mantap menasbih diri sebagai saluran televisi yang hanya menayangkan program documenter tentang keragaman alam dan budaya.

Selain untuk konsumsi televisi, film dokumenter juga lazim diikutsertakan dalam berbagai festival film di dalam dan luar negeri. Sampai akhir penyelenggaraannya tahun 1992, Festival Film Indonesia (FFI) memiliki kategori untuk penjurian jenis film dokumenter. Di Indonesia, produksi film dokumenter untuk televisi dipelopori oleh stasiun televisi pertama kita, Televisi Republik Indonesia (TVRI). Beragam film documenter tentang kebudayaan, flora dan fauna Indonesia telah banyak dihasilkan TVRI. Memasuki era televisi swasta tahun 1990, pembuatan film dokumenter untuk televisi tidak lagi dimonopoli TVRI. Semua televisi swasta menayangkan program film dokumenter, baik produksi sendiri maupun membelinya dari sejumlah rumah produksi. Salah satu gaya film dokumenter yang banyak dikenal orang, salah satunya karena ditayangkan secara serentak oleh lima stasiun swasta dan TVRI adalah Anak Seribu Pulau (Miles Production, 1995). Dokudrama ini ternyata disukai oleh banyak kalangan sehingga sekitar enam tahun kemudian program yang hampir sama dengan judul Pustaka Anak Nusantara (Yayasan SET, 2001) diproduksi untuk konsumsi televisi. Dokudrama juga mengilhami para pembuat film di Hollywood. Beberapa film terkenal juga mengambil gaya dokudrama seperti JFK (tentang presiden Kenedy), Malcom X, dan Schindler’s List.

Film Cerita Pendek (Short Films)

Durasi film cerita pendek biasanya di bawah 60 menit. Di banyak negara seperti Jerman, Australia, Kanada, Amerika Serikat, dan juga Indonesia, film cerita pendek dijadikan laboratorium eksperimen dan batu loncatan bagi seseorang/sekelompok orang untuk kemudian memproduksi film cerita panjang. Jenis film ini banyak dihasilkan oleh para mahasiswa jurusan film atau orang/kelompok yang menyukai dunia film dan ingin berlatih membuat film dengan baik. Sekalipun demikian, ada juga yang memang mengkhususkan diri untuk memproduksi film pendek, umumnya hasil produksi ini dipasok ke rumah-rumah produksi atau saluran televisi.

Film Cerita Panjang (Feature-Length Films)

Film dengan durasi lebih dari 60 menit lazimnya berdurasi 90-100 menit. Film yang diputar di bioskop umumnya termasuk dalam kelompok ini. Beberapa film, misalnya Dances With Wolves, bahkan berdurasi lebih 120 menit. Film-film produksi India rata-rata berdurasi hingga 180 menit.

Profil Perusahaan (Corporate Profile)

Film ini diproduksi untuk kepentingan institusi tertentu berkaitan dengan kegiatan yang mereka lakukan, misal tayangan “Usaha Anda” di SCTV. Film ini sendiri berfungsi sebagai alat bantu presentasi atau promosi.


Iklan Televisi (
TV Commercial)

Film ini diproduksi untuk kepentingan penyebaran informasi, baik tentang produk(iklan produk) maupun layanan masyarakat (iklan layanan masyarakat atau public service announcement/PSA). Iklan produk biasanya menampilkan produk yang diiklankan secara eksplisit, artinya ada stimulus audio-visual yang jelas tentang produk tersebut. Sedangkan iklan layanan masyarakat menginformasikan kepedulian produsen suatu produk terhadap fenomena sosial yang diangkat sebagai topik iklan tersebut. Dengan demikian, iklan layanan masyarakat umumnya menampilkan produk secara implisit.

Program Televisi (TV Programme)

Program ini diproduksi untuk konsumsi pemirsa televisi. Secara umum, program televisi dibagi menjadi dua jenis yakni cerita dan noncerita. Jenis cerita terbagi menjadi dua kelompok yakni fiksi dan nonfiksi. Kelompok fiksi memproduksi film serial (TV series), film televisi/FTV (populer lewat saluran televisi SCTV) dan film cerita pendek. Kelompok nonfiksi menggarap aneka program pendidikan, film dokumenter atau profil tokoh dari daerah tertentu. Sedangkan program non cerita sendiri menggarap variety show, TV quis, talkshow, dan liputan berita (news).


Video Klip (
Music Video)

Video klip adalah sarana bagi produser music untuk memasarkan produknya lewat medium televisi. Dipopulerkan pertama kali lewat saluran televisi MTVtahun 1981. Di Indonesia, video klip ini sendiri kemudian berkembang sebagai bisnis yang mengiurkan seiring dengan pertumbuhan televisi swasta. Akhirnya video klip tumbuh sebagai aliran dan industri tersendiri. Beberapa rumah produksi mantap memilih video klip menjadi bisnis utama (core busines) mereka. Di Indonesia tak kurang dari 60 video klip diproduksi tiap tahun.


A - Z 'bout BrodKesTing

ISTILAH ISTILAH DUNIA BROADCASTER

Bagi para Broadcaster, Paling tidak kita harus punya bekal, aku ada sedikit pengumpulan data yang saya rasa ada manfaatnya, paling tidak dapat membantu dan mempermudah, yaitu istilah istilah dalam dunia Broadcast:

DUNIA BROADCASTER

Audio Visual : Sebutan bagi perangkat yang menggunakkan unsur suara dan gambar.
Art Director : Sebutan bagi pengarah seni artistik dari sebuah produksi.
Asisten Produser : Seseorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya.
Audio Mixing : Proses penyatuan dan penyelarasan suara dari berbagai macam jenis dan bentuk suara.
Angle : Sudut pengambilan gambar.
Animator : Sebutan bagi seseorang yang beprofesi sebagai pembuat animasi.
Audio Effect : Efek suara.
Atmosfir /Ambience : Suara natural dari objek gambar.
Broadcasting : Proses pengiriman sinyal ke berbagai lokasi secara bersamaan baik melalui satelit, radio, televisi, komunikasi data pada jaringan dan lain sebagainya.
Broadcaster : Sebutan bagi seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran.
Background : Latar belakang.
Blocking : Penempatan objek yang sesuai dengan kebutuhan gambar.
Bridging scene : Adegan perantara diantara adegan – adegan lainnya.
Back Light : Penempatan lampu dasar dari sudut belakang objek.
Rundown : Penentuan gambar yang sesuai dengan naskah atau urutan acara.
Bumper In : Penanda bahwa program acara TV dimulai kembali setelah iklan komersial.
Bumper Out : Penanda bahwa program acara TV akan berhenti sejenak karena iklan komersial.
Credit Title : Urutan nama tim produksi dan pendukung acara.
Chroma Key : Sebuah metode elektronis yang melakukan penggabungan antara gambar video yang satu dengan gambar video lainnya dimana dalam prosesnya digunakan teknik Key Colour yang dapat diubah sesuai kebutuhan foreground dan background.
Cutting on Beat : Teknik pemotongan gambar berdasar tempo.
Teaser : Sebutan bagi adegan atau gambar yang akan mengundang rasa ingin tahu penonton tentang kelanjutan acara, namun harus ditunda karena ada jeda iklan komersial.
Cut : Pemotongan gambar.
Cutting : Proses pemotongan gambar.
Camera Blocking : Penempatan posisi kamera yang sesuai dengan kebutuhan gambar.
Crazy Shot : Gambar yang direkam melalui kamera yang tidak beraturan.
Compotition : Komposisi.
Continuity : Kesinambungan.
Cross Blocking : Penempatan posisi objek secara silang sesuai dengan kebutuhan gambar.
Crane : Katrol khusus untuk kamera dan penata kamera yang dapat bergerak keatas dan kebawah.
Clip On : Mikrofon khusus yang dipasang pada objek tanpa terlihat.
Casting : Proses pemilihan pemain lakon sesuai dengan karakter dan peran yang akan diberikan.
Desain Compugrafis : Rancangan grafis yang digambar melalui tekhnologi komputer.
Durasi : Waktu yang diberikan atau dijalankan.
Dissolve : Tekhnik penumpukan gambar pada editing maupun syuting multi kamera.
Depth of Field : Area dimana seluruh objek yang diterima oleh lensa dan kamera muncul dengan fokus yang tepat. Biasanya hal ini dipengaruhi oleh jarak antara objek dan kamera, focal length dari lensa dan f-stop.
Dialogue : Percakapan yang muncul dalam adegan.
Dramatic Emotion : Emosi gambar secara dramatis.
Dubbing : pengisian suara / narasi .
Editing : Proses pemotongan gambar.
Ending Title : Urutan nama yang dicantumkan pada akhir movie.
Establish Shot : Gambar pengenalan yang natural dan wajar.
Focus : Penyelarasan gambar secara detail, tajam, dan jernih hingga mendekati objek aslinya.
Final Editing : Proses pemotongan gambar secara menyeluruh.
Floor Director : Seseorang yang bertanggung jawab membantu mengkomunikasikan keinginan sutradara, dari master kontrol ke studio produksi.
Filter Camera : Filter yang digunakan untuk kamera.
Footage : Gambar – gambar yang tersedia dan dapat digunakan.
Foreground : Latar depan.
Hunting Location : Proses pencarian dan penggunaan lokasi terbaik untuk syuting.
Headset : Digunakan untuk dapat mendengarkan suara sutradara.
Hand held : Tekhnik penggunaan kamera dengan tangan tanpa tripod.
Intercut : Gambar penghubung antar sequence satu ke yang lain.
Jumping Shot : Proses pengambilan gambar secara tidak berurutan.
Juncta Position : Kondisi dimana latar belakang menjadi satu dengan obyek dan sangat mengganggu.
Jimmy Jib : Katrol kamera otomatis yang digerakkan dengan remote.
Job Description : Deskripsi tentang jenis pekerjaan.
Jeda Komersial : Saat penayangan iklan komersial diantara acara televisi.
Job Title : Penamaan jabatan pada pekerjaan.
Kreator : Sebutan bagi seseorang yang menciptakan karya kreatif.
Lighting : Penataan cahaya.
Lighting Effect : Efek dari penataan cahaya.
Lensa Wide : Digunakan untuk memperbesar sudut pandang pengambilan gambar dari kamera.
Lensa Super Wide : Digunakan untuk sangat memperbesar sudut pandang pengambilan gambar dari kamera.
Master Control : Perangkat teknis utama penyiaran untuk mengontrol proses distribusi audio dan video dari berbagai input pada produksi untuk siaran live show maupun recorded.
Main Object : Target pada objek utama.
Monitor : Digunakan untuk memantau gambar.
Master Video : Video utama berisikan rekaman acara televisi yang siap untuk ditayangkan maupun disimpan.
Multi Camera : Sistem dari tata produksi audio visual yang syuting secara bersamaan dengan menggunakan sejumlah kamera.
Master Shot : Gambar pilihan utama dari sebuah adegan yang kemudian dijadikan referensi atau rujukan saat melakukan editing.
Noise : Gangguan pada sirkulasi signal audio maupun video yang mengganggu program acara.
News Director : Direktur pemberitaan yang bertanggung jawab atas seluruh isi pemberitaan yang disiarkan secara aktual berdasarkan fakta.
Off Line : Proses editing awal untuk memilih gambar terbaik dengan time code dari berbagai stock shot sesuai dengan kebutuhan adegan. Hasil dari gambar tersebut ditransformasikan dalam bentuk workprint dengan EDL (edit decision List).
On Line : Proses akhir editing untuk menyempurnakan, mempercantik dan memperindah gambar setelah melalui proses off line.
Opening Scene : Adegan yang dirancang khusus untuk membuka acara atau cerita. Biasanya adegan ini dikemas kreatif dan menarik untuk mendpatkan perhatian penonton.
Opening Shot : Komposisi sudut pengambilan gambar pada awal adegan atau acara yang dirancang khusus untuk menarik perhatian penonton.
OB Van : Outside Broadcasting Van, mobil khusus yang membawa perangkat tekhnis penyiaran audio dan video untuk memproduksi program diluar studio. Dapat juga digunakan untuk master control bagi siaran langsung.
Over Exposed : Kondisi dimana pencahayaan terlalu terang.
Property : Berbagai aksesori.
Program Directing : Penyutradaraan program televisi.
Programming : Tekhnik penyusunan program acara televisi yang ditayangkan secara berurutan.
Praproduksi : Berbagai kegiatan persiapan sebelum pelaksanaan produksi dimulai.
Paskaproduksi : Proses penyelesaian akhir dari produksi.Biasanya istilah ini digunakan pada proses editing.
Produser : Pimpinan produksi yang bertanggung jawab kepada seluruh kegiatan pengkoordinasian pelaksanaan praproduksi, produksi sampai paskaproduksi.
Rating : Perhitungan secara statistikal untuk mengukur tingkat popularitas program acara televisi terhadap penonton.
Rundown : Susunan isi dan alur cerita dari program acara televisi yang dibatasi oleh durasi, jeda komersial, segmentasi, dan bahasa naskah.
Run Through : Latihan akhir bagi seluruh pendukung acara televisi yang disesuaikan dengan urutan acara sesuai dalam rundown.
Reportase : Sebuah laporan perjalanan atau liputan lapangan yang digunakan untuk mendukung data – data aktual dan faktual.
Retake : Pengulangan pengambilan adegan gambar.
Shot : Ambil Gambar.
Simply Shot : Gambar yang diambil dari sudut yang mudah.
Sequence : satu rangkaian gambar yang terdiri dari berbagai angle dan ukuran shot yang menggambarkan suatu kejadian
Stand By : Komando akhir yang menunjukkan bahwa seluruh komponen produksi telah siap untuk melaksanakan syuting.
Stock Shot : Berbagai bentuk gambar yang diciptakan untuk dijadikan pilihan pada saat gambar gambar tersebut memasuki proses editing.
Suspense : Istilah yang digunakan untuk menunjukkan adegan – adegan yang menegangkan dan mengundang rasa was was bagi penonton.
Sound : Penataan suara.
Sound Effect : Efek suara yang diciptakan atau digunakan untuk mendukung suasana dari adegan.
Steady Shot : Gambar sempurna dan tidak terlalu banyak bergerak, yang dapat dinikmati dengan posisi diam.
Switcher : Istilah populer bagi perangkat tekhnis untuk memindah-mindahkan pemilihan gambar dari berbagai stock shot maupun input kamera. Alat ini digunakan untuk syuting multi kamera.
Switcherman : Seseorang yang bertugas melaksanakan proses pemindahan gambar sesuai dengan komando sutradara.
Streaming : Proses pengiriman gambar via internet.
Studio : Lokasi khusus tempat pelaksanaan kerja produksi berlangsung. Dapat untuk melaksanakan syuting (shooting studio) maupun untuk editing (post production studio).
Sound Mixer : Mixer pengendali dari berbagai input suara yang dipilah melalui sejumlah jalur (track).
Slow Motion : Pergerakkan gambar yang diperlambat sesuai dengan kebutuhan alur cerita.
Technical Director : Pengarah / Direktur tehnik.
Teleprompter : piranti didepan kamera yang membantu presenter membaca naskah.
Take : Istilah yang digunakan untuk dan pada saat pengambilan gambar berlangsung. Dapat juga digunakan sebagai catatan pada naskah.
Two Shot : Istilah komando sutradara yang seringkali digunakan untuk mengarahkan kamera kepada dua objek yang dituju.
Three Shot : Istilah komando sutradara yang seringkali digunakan untuk mengarahkan kamera kepada tiga objek yang dituju.
Theme Song : Lagu khusus yang diciptakan atau dipakai sebagai pendukungikatan emosi dari program acara kepada penonton.
Up Link : Proses Pengiriman gambar via satelit.
Under Exposed : Kondisi dimana pencahayaan kurang / lemah cenderung gelap.
VTR : Video Tape Recording.
Voice Over (VO) : Suara dari announcer atau penyiar untuk mendukung isi cerita namun tidak tampak dilayar televisi.
Vision Mixer : Sebutan lain untuk istilah populer “switcher”.
Wireless Camera : Kamera yang menggunakan transmisi signal untuk mengirimkan hasil gambar tanpa menggunakan kabel.
White Balance : Prosedur untuk mengkoreksi warna gambar dari kamera dengan mengubah sensitivitas CCD ke dalam spektrum cahaya. Umumnya prosedur ini menggunakan cahaya putih sebagai dasar.

pengamen???? between job, destiny, social relationship,or just looking for fun…???

pengamen???? between job, destiny, social relationship,or just looking for fun…???



Di antara kita masih ada yang ngeh sama Pengamen ga’? Waktu ngeliat pengamen di stopan lampu merah, mendatangi kita yang lagi naik angkot, atau di bis-bis, bahkan yang sering mendatangi rumah kita? Apa yang terlintas di benak kita ketika melihat seorang pengamen? Melecehkannya, mengasihaninya, memandang dengan sebelah mata atau bahkan membencinya karena merasa terganggu dan menganggap itu pekerjaan hina?

Dari pemantauan secara langsung dan ketika aku juga ikut yaa… ngmen sebentar lah……di jalan, dengan menjadi seorang pengamen jalanan pula di daerah Karang Ploso,Lawang, Pasar Batu, dan kawasan lainnya, aku mengetahui motif orang-orang yang memilih mencari uang dengan menjadi Pengamen jalanan. Sebenarnya para pengamen itu tidak berminta untuk menjadi Pengamen kalau tidak terpaksa. Setidaknya, kebanyakan pengamen adalah yang karena terpaksa. Jika masih ada pekerjaan yang lebih baik, mungkin para pengamen akan lebih memilih untuk bekerja.

Berikut beberapa alasan atau motivasi seseorang menjadi Pengamen;
1. Faktor Pengangguran. Karena tidak punya pekerjaan tetap dan putus asa selalu ditolak oleh semua perusahaan yang dilamarnya
2. Tidak punya keahlian/skill yang bisa diasah untuk dijadikan bekal dan modal untuk menghasilkan uang
3. Malas. Merasa Ngamen adalah cara yang paling gampang untuk menghasilkan uang daripada bekerja atau berwira usaha dengan penghasilan yang tidak mencukupi.
4. Idealis. Orang yang memilih mengamen karena idealismenya ini biasanya orang yang tidak mau bekerja pada orang lain dan diatur orang lain. Baik dalam hal waktu, tempat kerja, jabatan terutama gaji. Artinya, orang idelais yang sekaligus egois ini terlalu pilih-pilih dalam mencari pekerjaan
5. Side Job. Untuk memperoleh penghasilan lebih dari penghasilan tetapnya yang tidak seberapa.
6. Frustasi dan mencari pelampiasan. Bisa yang karena Broken Home atau Broken Heart.
7. Mengembangkan hobi dan bakat bermusik seperti melatih kualitas suara atau vokal, mengasah skill bermain alat musik seperti gitar, biola, kendang dsb.
8. Karena Paksaan atau suruhan orang lain. Biasanya motif seperti ini adalah para pengamen cilik yang disuruh orang tuanya atau bahkan dipaksa preman jalanan setempat.

9. Ada juga yang cuma pagi , siang, malam mengamen hanya untuk berfoya - foya seperti buat minum - minuman keras, narkoba, memperluas wilayah kekuasaannya tearhadap area/daerah tertentu, dsb.

Intinya ada dua alasan utama kenapa orang ngamen: Yang terpaksa dan yang enggak terpaksa. Yang terpaksa (ataupun dipaksa) adalah yang bisa dimaklumi sedangkan yang enggak terpaksa belum tentu enggak bisa dimaklumi.